11 Juta Hektare Raib: Dua Dekade Pembantaian Hutan Primer Indonesia

11 Juta Hektare Raib: Dua Dekade Pembantaian Hutan Primer Indonesia

Riau - Indonesia sedang kehilangan jantung ekologisnya perlahan, sistematis, dan nyaris tanpa rasa bersalah. Dalam kurun dua dekade terakhir, tak kurang dari 11 juta hektare hutan primer lenyap dari peta negeri ini. Angka itu bukan sekadar statistik lingkungan, melainkan potret telanjang dari kegagalan tata kelola sumber daya alam yang dibiarkan berlangsung dari rezim ke rezim.

Hutan primer benteng terakhir keanekaragaman hayati, penyimpan karbon, dan penyangga kehidupan telah berubah menjadi korban ekspansi rakus industri ekstraktif. Perkebunan skala besar, tambang, dan konsesi kehutanan terus menggerogoti kawasan yang seharusnya dilindungi. Negara hadir, tetapi lebih sering sebagai pemberi izin ketimbang pelindung hutan.

Ironisnya, kerusakan ini terjadi di tengah gembar-gembor komitmen hijau dan janji transisi menuju ekonomi berkelanjutan. Di atas kertas, perlindungan hutan digaungkan. Di lapangan, buldoser tetap bekerja.

Akibatnya nyata: banjir bandang, longsor, krisis air, dan konflik agraria semakin sering menghantam wilayah-wilayah yang hutannya telah dibabat.

Para pakar lingkungan menegaskan, kehilangan hutan primer tidak bisa dipulihkan dalam satu generasi. Sekali rusak, ekosistem ini membutuhkan ratusan tahun untuk kembali jika masih diberi kesempatan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: pembukaan lahan terus dilegalkan, pengawasan longgar, dan pelanggaran berulang jarang berujung hukuman setimpal.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah hutan Indonesia akan habis, tetapi siapa yang diuntungkan dari kehancuran ini dan sampai kapan negara memilih menutup mata. Jika 11 juta hektare saja bisa hilang tanpa kegentingan nasional, maka yang terancam bukan hanya hutan melainkan masa depan Indonesia itu sendiri.***

#Hutan primer Indonesia